Arsip Blog

Orang Pintar Tidak Akan Mainan HP Sambil Nyetir/Berkendara

Walaupun ponsel sudah jadi barang wajib orang2 sekarang, tapi alangkah lebih bijaksana jika ponsel tidak digunakan saat berkendara atau mengemudikan mobil.

Jika penting, menepilah saat ingin menjawab telpon atau membalas sms. Selain itu juga tidak disarankan mendengarkan musik saat berkendara/menyetir karena hanya akan mengganggu konsentrasi.

Jangan sampai anda jadi korban atau mengorbankan orang lain kecuali anda adalah orang TOLOL yg tidak menghargai nyawa anda sendiri ataupun orang lain..

Pict from Eyang Edo Rusyanto

Iklan

Awas Ada ALAY !!!

Assalamu’alaikum…

Alay lagi alay lagi.. 😀

Alay yg bapake maksud di sini bukan alay yg kalau naik motor suka sruntulan sana sini itu lho. Tapi alay dalam arti sebenernya alias singkatan dari Anak LAYangan..

Read the rest of this entry

Pelek Byson yg Pakai Ban Gede Aja Bisa Peyang, Gimana Kalau Ban + Pelek Cungkring??

Assalamu’alaikum…

Jalanan di Indonesia memang parah masbro semua. Banyak ranjau2 alias lubang2 berbahaya yg setiap saat bisa mencelakakan kita. Mungkin masbro semua sudah ada yg baca artikelnya Mas IWB tentang pelek bysonnya yg peyang karena menghantam lubang. Trus kang Irfan Luthfie juga cerita kalau ada temennya yg pelek bysonnya juga mencumbu lubang jalan sampai amburadul.

dari blognya kang Irfan

dari blognya kang Irfan

punyanya mas IWB

Read the rest of this entry

Anak Kecil Bawa Motor. Orangtuanya Sungguh Ter…..la….luu…..

Assalamu’alaikum…..

Artikel ini bermula dari cerita bundaValen beberapa hari yang lalu. Ceritanya begini…. 😀

Kantor tempat bunda berada di sebuah komplek perumahan di semarang. Nah, kalau istirahat, bunda & temannya sering makan di warung makan dekat sebuah perempatan di komplek itu. Saat makan di situ, bunda sering lihat ada anak kecil usia SD naik motor bebek lewat di jalan itu tanpa memakai helm. Mungkin saja rumah atau sekolahnya di dekat komplek perumahan situ. Lha yg bikin bunda heran, anak itu naik motor lumayan kencang  untuk ukuran perumahan. Padahal tinggi anak itu belum ideal untuk mengendarai sepeda motor. Wong kalau mau berhenti aja anak itu harus turun dari jok & berdiri di dek tengah motornya.

Suatu hari saat bunda makan di situ, si anak lewat dengan “gagahnya”. Di depan bunda ada laki2 pengunjung warung yang berkomentar :

“Sangar ik. Isih cilik wis dicekeli motor. (Sangar… Masih kecil udah dibolehin bawa motor)”

Beberapa hari kemudian saat bunda makan di tempat yg sama, anak itu lewat lagi. Nah kali ini  seorang bapak2 warga keturunan melihat sekilas & geleng2 kepala sambil  berkomentar :

“Orangtuanya edan. Anak sekecil itu udah boleh bawa motor. Nanti kalau anaknya celaka baru nyesel. Mending kalau sendiri, lha kalau celakain orang lain??”

Dari pemikiran dua orang yang berbeda di atas, bapake cenderung setuju sama si bapak. Rasanya kok keterlaluan banget membiarkan anak kecil bawa motor sendiri. Padahal jelas2 anak usia SD pasti belum punya KTP/SIM. Menurut UU No 22 tahun 2009 pasal 81  disebutkan bahwa

(1) Untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77, setiap orang harus memenuhi persyaratan usia, administratif, kesehatan, dan lulus ujian.
(2) Syarat usia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan paling rendah sebagai berikut:
a. usia 17 (tujuh belas) tahun untuk Surat Izin Mengemudi A, Surat Izin Mengemudi C, dan Surat Izin Mengemudi D;

b. usia 20 (dua puluh) tahun untuk Surat Izin Mengemudi B I; dan
c. usia 21 (dua puluh satu) tahun untuk Surat Izin Mengemudi B II.

(3) Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a. identitas diri berupa Kartu Tanda Penduduk;
b. pengisian formulir permohonan; dan
c. rumusan sidik jari.

(4) Syarat kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a. sehat jasmani dengan surat keterangan dari dokter; dan
b. sehat rohani dengan surat lulus tes psikologis.

(5) Syarat lulus ujian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a. ujian teori;
b. ujian praktik; dan/atau
c. ujian keterampilan melalui simulator.
(6) Selain persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5), setiap Pengemudi Kendaraan Bermotor yang akan mengajukan permohonan:
a. Surat Izin Mengemudi B I harus memiliki Surat Izin Mengemudi A sekurang-kurangnya 12 (dua belas) bulan; dan
b. Surat Izin Mengemudi B II harus memiliki Surat Izin Mengemudi B I sekurang-kurangnya 12 (dua belas) bulan.

Dari pasal di atas, menurut hukum anak kecil usia SD sudah jelas belum memenuhi syarat. Apalagi anak usia itu emosinya cenderung masih labil. Penguasaan atau reflek terhadap pengendalian motor saat ada insiden pasti masih rendah. Lha wong yang udah dewasa aja kadang2 suka emosi kok… Takutnya saat di jalan terjadi hal2 yg sifatnya spontan, si anak belum tentu bisa mengendalikan motornya.

Saran bapake sih mending janganlah kasih ijin buat anak bawa motor sendiri kalau belum saatnya. Sayang sih boleh saja, tapi sebagai orang tua kita harus bijak dalam menuruti setiap keinginan anak kita. Jangan sampai karena alasan sayang, trus kita jadi menyesal seumur hidup. Karena kita tidak bisa tahu apa yg akan terjadi di jalanan.

Semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum…..

 

NB : seperti biasa, gambar ambil dari google. 😀

Warga Perumahan Elit….. Tapi Otaknya Seuprit….

Assalamu’alaikum…..

Setelah beberapa lama vakum, akhirnya sekarang bisa nulis artikel juga. 😀

Sebenarnya artikel ini dibuat karena akumulasi kekesalan bapake pada beberapa warga salah 1 perumahan elit di Semarang.

Ceritanya begini anak2…..

Tadi pagi sekitar jam 8, bapake nganter bunda berangkat kerja ke kantornya yg terletak di perumahan Semarang Indah.  Nah.. memasuki komplek perumahan itu, ada 1 perempatan yg di tengahnya terdapat bundaran kecil.

ilustrasinya kayak gini
ngambil dari gugel..

Bapake mau jalan lurus karena kantor bunda di rumah paling pojok. Tiba2 bapake dikejutkan oleh 1 mobil yang keluar dari arah kiri & langsung belok ke kanan alias ke arah bapake. Padahal di bundaran itu ada rambu2 perintah yg mengharuskan memutar dulu kalau mau belok ke kanan. Rambu2nya kayak gini nih :

Namanya juga orang kaget, bapake spontan pencet klakson sambil melotot. Tapi  lidahnya gak sampe melet2 lho. Si driver pun cuma diem saja. Dalam hati bapake cuma bilang.. “sabaar… wong gak sampai ditubruk kok. Kalo ketubruk, baru keluarin jurus2 mautnya” 😀

Nah, mungkin pembaca pada mikir ya..

“baru juga 1x & gak sampai terjadi insiden. ngapain kesel”

lha perlu pembaca semua ketahui (halah…), bapake sudah mengalami hal seperti ini sebanyak 5x. Dari ke 5 kejadian itu perinciannya seperti ini, 2x hampir ciuman sama motor, 3x sama mobil, 3x ke arah masuk, 2x ke arah keluar, 4x sama laki-laki, 1x sama perempuan.  Makanya bapake kesel. Masih mending kalau ciuman sama Angel Cherrybelle.

Arti rambu2 itu adalah jika kita mau belok ke kanan, kita harus memutar dulu melewati bundaran baru boleh belok kanan. Tapi pada prakteknya, warga di situ justru langsung belok ke kanan tanpa harus memutar dulu. Jadi, rambu2 itu dipasang untuk apa??  buat pajangan biar terlihat keren karena ini perumahan orang2 kaya? atau rambu2 itu berlaku untuk orang luar alias selain warga perumahan itu.. Gak mungkinlah wong gerang daplok  kaya mereka gak tahu arti rambu tersebut.  Jangan2 SIMnya nembak ya… 😈

Karena gak cuma 1x ngalamin yg seperti ini, maka bapake simpulkan kalau mereka itu, biarpun  orang kaya, pengusaha, berduit, bisa beli mobil mewah, tapi cara berkendara mereka cenderung seenaknya & membahayakan orang lain.. Walaupun tidak semuanya seperti itu. 

Coba kalau tidak sempat ngerem, kan orang lain yg celaka.

Yah… moga2 saja mereka cepet sadar kalo gaya berkendara atau menyetir mereka yg sruntulan itu bisa membahayakan orang lain. Gak perlulah nunggu sampai terjadi hal2 yg tidak menyenangkan.

Barangkali ada yg pernah mengalami hal yg sama? monggo dishare…

Semoga bermanfaat.. Mohon maaf kalau ada yg tersungging.. eh..tersinggung 😀

Wassalamu’alaikum…

Bonus yg bening2 ah.. biar adem

unyu-unyu deh.. :mrgreen:

Ban Cacing = ALAY ?

Alay….

Pasti kita sering mendengar istilah itu.. Beberapa waktu lalu bahkan sampai sekarang di dunia blogger masih rame membahas tentang alay. Entah itu motor alay, rider alay atau alay2 yg lain.

Kali ini bapake coba membahas tentang alay ini dari sudut pandang bapake.

Apa itu alay?

Setahu bapake, alay yg merupakan singkatan dari anak layangan pada awalnya diperuntukkan bagi anak2 muda yg gemar menonton acara musik di studio. Kebanyakan mereka berdiri di belakang artis2 yg sedang tampil, dengan dandanan heboh (bisa dibilang norak) khas anak muda (sok) gaul. Malah terkadang dandanan mereka tidak sesuai dengan tampang mereka. terutama buat cowoknya.. Misal, kulitnya item tapi pake baju ngejreng yg nyulek mata, atau rambut dicat kuning genjreng kaya mau kampanye gitchu…

Kenapa disebut anak layangan?

Anak layangan atau anak2 yg suka main layang2 biasanya bertampang dekil, dengan kulit kehitaman & rambut merah terbakar matahariMelihat dari kota asal sebutan ini dilahirkan, yaitu Jakarta yg notabene adalah kota besar yg jarang sekali ditemui anak2 yg main layangan kecuali di kampung pinggiran, maka secara tidak langsung sebutan alay ini bisa diartikan sebagai anak kampungan alias norak..

Alay = Anak Lebay

Selain anak layangan, alay juga bisa diartikan sebagai anak lebay alias bertindak berlebihan. Misalnya, dari dandanan yg hebih, cara bicara yg cenderung dibuat-buat, ataupun cara menulis sms yg campur aduk antara huruf kapital, huruf kecil, angka2 & tanda baca digabung jadi satu. Jujur, bapake kadang mumet kalo baca tulisan2 alay itu. Apa mungkin alay itu sejenis alayien ya?? Mungkin terkesan gaul bagi mereka, tapi bagi sebagian orang justru membingungkan..

Alay dalam bermotor

Nah, berhubung blog2 yg heboh membahas alay adalah blog roda 2, maka bapake hanya membahas tentang alay dalam bermotor saja.

Menurut kacamata bapake, dari beberapa blog yg sering bapake kunjungi istilah Alay dalam bermotor cenderung lebih ke hal2 yg negatif. Misalnya gaya modif yg kurang memperhatikan unsur safety & merugikan pengendara lain seperti pemakaian ban cacing, melepas spion, pemakaian knalpot cempreng yg suaranya aja lebih kenceng daripada kecepatan motornya, pakai mika stoplamp warna putih atau melepas fender belakang. Selain itu gaya berkendaranya juga cenderung membahayakan orang lain, sruntulan, tidak menyalakan lampu utama pada malam hari, belok tanpa sein, sampai berjalan tidak beraturan alias zig-zag.. Rata2 biker alay ini adalah anak2 muda labil alias ababil walaupun tidak menutup kemungkinan ada orang dewasa yg alay juga.

Kenapa memakai ban cacing = alay ?

Pada awalnya pemakaian ban tipis alias ban cacing ini lebih dikhususkan untuk motor2 yg turun dalam ajang drag bike resmi. Yah.. namanya motor drag, sebisa mungkin bobot motor dikurangi biar larinya kenceng.. Gak cuma pakai ban tipis aja, tapi ada juga yg sampai membolongi rangka. Sah2 saja, wong balap resmi kok…

Sedang tren ban tipis untuk harian sebenernya sudah ada sejak 5-8 th yg lalu. Tidak bisa dipungkiri, peran media terutama media cetaklah yg bertanggungjawab dalam penyebaran virus ban tipis ini. Bapake dulu berlangganan salah satu tabloid motor yg jadi anggota grup Jawa Pos. Artikel2 modifnya lebih sering menampilkan motor2 berban tipis yg katanya modif ala thailand alias Mothai. Bahkan  selalu menekankan kata2 gaul dalam artikel itu. Yah gak heran jika sekarang pakai ban tipis itu jadi tren  biar gaul. Gak anak2 sekolah, mahasiswa, karyawan, bahkan polisi juga ada. Gak cuma motor bebek atau matik, bahkan motor sport yg bodinya gede saja dipasangi ban tipis. Lha yo ora imbang to le…  Selain gaul, katanya juga biar tarikannya enteng, larinya bisa kenceng. Salah kaprah tuh…

Pabrikan sudah merancang spek ban yg dipasang pada motor2 produksinya sesuai dengan bobot & kemampuan mesinnya. Lha kok malah diganti lebih kecil.. Mengganti ban standar dengan ban tipis selain berbahaya buat diri sendiri juga bisa membahayakan orang lain. Karen  semakin kecil ban yg dipakai, semakin berkurang juga tapak ban yg kontak dengan aspal. Untuk dipakai menikung juga  berbahaya karena cengkeraman tapak ban yg minim. Kalau pas nikung terus terpeleset & jatuh.. Rugi sendiri kan? Kalau jatuh sendiri sih masih mending karena resiko ditanggung sendiri. Kalau jatuhnya menyeret orang lain? Selain rugi sendiri juga merugikan orang lain.  Itulah kenapa banyak yg anti dengan ban cacing.Selain itu fungsi ban adalah untuk membantu sokbreker meredam guncangan saat melewati jalan yg bergelombang. Lha kalau ban tipis kejeblos lubang bakal ndlosor dengan sukses. Minimal pelek peyanglah.

nyomot punya pakdhe maskur

“halah… gak apa2 pakai ban tipis. Kan jalannya pelan2..”

Bapake rasa tidak mungkin seorang biker akan jalan pelan seterusnya.. Pegel cuy… Tetap adakalanya pengen kenceng juga. Wong bapake juga sering liat motor ban tipis jalannya kenceng kok.

Sekali lagi, alay bukan cuma soal ban kecil. Tapi lebih ke attitude dalam berkendara yg membahayakan orang lain. Motor dengan ban gede kalau jalannya sruntulan & menyerobot jalur orang lain bisa disebut alay juga.

Tren ini tidak bisa serta merta dihilangkan. Perlu peran berbagai pihak. Selain aparat yg harus lebih tegas, media juga harus bisa menampilkan artikel2 yg lebih mengutamakan safety dalam berkendara maupun dalam memodif kendaraan. Termasuk blogger juga lho. Bahkan mungkin penjual ban tipis juga harus tegas. Gak boleh beli ban cacing kalo gak bisa nunjukin KIS khusus balap drag ( ngimpi kali yeee :mrgreen: )

Mungkin seiring usia & tuntutan hidup, para alay itu akan sadar & kembali memasang piranti standar motornya masing2.

Bukannya sok suci atau merasa paling benar, tapi hanya berusaha tertib demi kenyamanan & keselamatan bersama.

Semoga bermanfaat..

Kalo yg alay kaya gini gimana yaa???

 

%d blogger menyukai ini: