Arsip Blog

TEMAN YANG MENYUSAHKAN…

Adel, ibu dari 2 orang putri,  karyawan sebuah perusahaan yg bergerak di bidang consumer goods adalah tipikal karyawan yg tidak neko-neko. tidak pernah macem-macem. kerja ya kerja, yg penting bisa beli susu buat  buah hatinya.

Dia & juga teman2nya termasuk dekat dengan atasannya yg bernama Yenny. Bahkan saking dekatnya, Adel sudah menganggap Yenny seperti kakaknya. Begitu juga sebaliknya. Bisa dikatakan tim mereka sangat kompak..

Karena tuntutan pekerjaan mereka yg harus mobile dari satu toko ke toko yang lain, mau gak mau mereka butuh laptop. Gak mungkin kan gotong PC kemana-mana??  Yenny pun berniat untuk ambil kredit laptop melalui leasing. Dengan alasan namanya sudah terpakai untuk kredit yg lain, dia pun “meminjam” nama Adel untuk diajukan ke pihak leasing.

“eh Del, kita butuh laptop nih. Tapi kalo nunggu pihak kantor kelamaan. Daripada repot, kita kredit sendiri aja. Tapi pake nama kamu aja, soalnya namaku udah dipake buat kredit motor..”  

Adel pun menyanggupi. Toh itu untuk kepentingan tim mereka juga. Semua syarat kredit sudah dipenuhi, & akhirnya laptop pun sudah di tangan tim mereka. Lumayanlah gak repot lagi.

Singkat cerita, life goes on. Sepertinya semua lancar2 saja. Sampai suatu ketika, Yenny mengundurkan diri dengan alasan menjaga kehamilannya yg tinggal menghitung hari brojolan. Yenny pun berjanji akan tetap bertanggungjawab atas laptop yg dikredit pakai nama Adel. Dan di sinilah baru ketahuan belang si Team Leader. Ternyata dia punya masalah “keuangan” yg rumit. Yaaa mirip2 sama kelakuan pejabat2 di negeri ini.

Bahkan gak cuma Adel, 2 temannya pun juga pernah dipinjam BPKBnya oleh Yenny. Sejak itulah Adel mulai was-was. Tapi Yenny & suaminya berhasil meyakinkan dia bahwa mereka akan tetap bertanggungjawab dengan kreditan mereka..

Hingga suatu hari, rumah Adel didatangi kolektor dari pihak leasing yg tujuannya sudah jelas. Apalagi kalau gak nagih angsuran. Kan kerjaan kolektor gitu… Ternyata sudah ada keterlambatan angsuran selama 4 bulan. Adel pun menjelaskan bahwa yg ambil kredit bukan dia, tapi temannya. Dia juga memberikan alamat rumah & nomer HP Yenny, biar si kolektor nagih sendiri sama orangnya..

Hari2 berikutnya tidak ada “tagihan” lagi dari si kolektor. Adel berpikir mungkin masalah sudah beres. Dia pun melanjutkan hidupnya termasuk mewujudkan mimpinya & sang suami. Yaitu memiliki RUMAH SENDIRI.  Kebetulan sewaktu mengantarkan temannya, dia tertarik pada satu perumahan yg letaknya di daerah Semarang atas. Hawa yg sejuk, suasana lingkungan yg asri menarik minat   si ibu muda tersebut. Dia lalu menyampaikan keinginannya pada sang suami. Ternyata beberapa teman suaminya juga ada yg ambil KPR di perumahan tersebut.

Konsultasi dengan pihak marketing, tanya2 persyaratan, termasuk segala kemungkinan terburuk karena kasus di atas, akhirnya pasangan muda itu memantapkan hati memilih satu rumah sederhana & membayar uang muka atas nama sang suami, & melengkapi semua persyaratan pengajuan KPR.  Setelah menunggu 2 bulan,  pihak developer memberi kabar bahwa KPR mereka disetujui walaupun tidak penuh. Legalah pasangan itu. Sebentar lagi impian mereka memiliki sebuah rumah mungil sederhana bakal terwujud. Mereka juga sering memantau proses pembangunan calon rumah mereka.

Tapi ternyata 1 bulan kemudian pihak developer menelpon suami Adel,

“maaf, pak. KPR bapak ditolak oleh bank. karena setelah dicek melalui BI Checking, ada masalah pada nama istri bapak”

Kabar itu pun membuat Adel & suaminya shock. Impian yg sudah di depan mata pun musnah. Setelah menghubungi pihak bank, Adel pun tahu bahwa ditolaknya kredit mereka karena namanya ada dalam blacklist bank gara2 ada tunggakan kredit di bank lain. Untuk membersihkan namanya, dia harus menyelesaikan urusan tunggak menunggak  tsb yang jumlahnya pun tidak sedikit. Apalagi mereka bukan dari golongan turah2 duit. Mereka sudah banyak mengeluarkan uang untuk bayar DP rumah.  Saat mencoba mendatangai Yenny, ternyata dia sudah pindah ke luar kota.

Adel pun menyesal karena dulu terlalu percaya pada Yenny. Niatnya baik mau menolong, tapi malah dia sendiri yang buntung.. Paling tidak dia harus menunda impiannya memiliki rumah sendiri &  sekarang harus keluar uang lagi untuk sesuatu yang tidak jadi miliknya. Yowislah,, anggap saja itu beramal.

—————————————————————————————————-

pesan dari cerita ini kurang lebih agar kita semua lebih berhati-hati. Nama baik itu mahal harganya. Jangan mudah percaya dengan orang lain jika ada yang mau meminjam nama anda. Walaupun dia teman dekat atau mungkin saudara anda sendiri. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang.

Semoga bermanfaat..

Monggo dishare pendapatnya..

 

Iklan
%d blogger menyukai ini: